-->
  • Jelajahi

    Copyright © Fakta Hukum
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Fajar Mufti dan Peta Korupsi Daerah yang Dibongkar dari Sumbar

    Redaksi Fakta Hukum Nasional
    Selasa, 21 April 2026, April 21, 2026 WIB Last Updated 2026-04-22T10:57:07Z
    banner 719x885

     


    Padang, fakta hukum nasional - Di lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia, nama Fajar Mufti bukan sekadar pejabat struktural. Ia merupakan representasi jaksa karier yang ditempa dari bawah, mengasah insting penegakan hukum dari daerah hingga ke level pusat.


    Lahir di Jakarta 58 tahun silam, Fajar memulai pengabdiannya di Korps Adhyaksa pada 1992. Sejak itu, lintasan kariernya bergerak konsisten—tidak selalu di panggung utama, tetapi justru di titik-titik krusial yang membentuk ketajaman perspektifnya, baik di bidang intelijen maupun penanganan tindak pidana khusus.


    Pengalaman lapangan menjadi fondasi yang kuat. Ia pernah bertugas di Cabang Kejaksaan Negeri Bangka di Belinyu, Kejaksaan Negeri Kudus, hingga Kejaksaan Negeri Rembang. Di tempat-tempat tersebut, Fajar berhadapan langsung dengan dinamika perkara, mulai dari pidana umum seperti pencurian dan penganiayaan hingga kasus yang bersinggungan dengan kepentingan publik.


    Kariernya kemudian berkembang ke tingkat yang lebih strategis. Ia dipercaya menjabat Kepala Seksi Tindak Pidana Umum di Kejari Rembang, lalu Kepala Seksi Perdata di Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah. Penugasannya di Kejaksaan Agung, khususnya dalam satuan tugas intelijen, memperluas cakrawala analisisnya terhadap pola kejahatan yang semakin terorganisasi.


    Di tingkat manajerial, Fajar pernah menempati sejumlah posisi penting, di antaranya Koordinator pada Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Selatan, Kepala Bagian Tata Usaha di Kejati Bengkulu, hingga Kepala Kejaksaan Negeri Pagar Alam.


    Bagi Fajar Mufti, setiap amanah jabatan mempertegas satu hal: kemampuannya membaca persoalan tidak hanya dari aspek hukum, tetapi juga dari sudut tata kelola dan risiko penyimpangan.


    Puncak penguatan perannya dalam pemberantasan korupsi terlihat saat ia menjabat Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat pada 2024. Dalam posisi ini, Fajar berada di garis depan penanganan sejumlah perkara yang menyita perhatian publik.


    Salah satunya adalah kasus dugaan korupsi dana subsidi operasional Bus Trans Padang tahun 2021 di Perumda Padang Sejahtera Mandiri (PSM). Perkara ini menyeret mantan Direktur Utama Poppy Irawan dan akuntan publik Teddy Alfonzo, dengan temuan kerugian negara mencapai sekitar Rp3,6 miliar. Modusnya, direktur utama melibatkan akuntan untuk merekayasa laporan keuangan serta menggunakan dana subsidi untuk menutup kewajiban di luar kepentingan operasional.


    Di periode yang sama, Kejati Sumatera Barat juga mengusut dugaan korupsi di Sekretariat Daerah Kabupaten Dharmasraya tahun 2023. Dalam perkara ini, penyidik menetapkan pejabat pelaksana tugas Kepala Bagian Umum Pemkab Dharmasraya sebagai tersangka. Modusnya berupa penarikan anggaran tanpa pertanggungjawaban yang sah, dengan aliran dana ke rekening pribadi. Nilai kerugian negara diperkirakan lebih dari Rp3 miliar, dengan sebagian aset berhasil diamankan sebagai barang bukti senilai Rp1,8 miliar.


    Penanganan perkara lain turut menjadi sorotan, termasuk dugaan korupsi pembebasan lahan proyek Tol Padang–Sicincin jilid II yang melibatkan aparatur dan masyarakat, dengan estimasi kerugian negara mencapai Rp27 miliar. Perkara ini memperlihatkan kompleksitas kolaborasi antara aktor administratif dan nonadministratif dalam penyimpangan proyek strategis.


    Di luar perkara yang telah memasuki tahap penuntutan, sejumlah penyelidikan juga bergulir, di antaranya proyek pembangunan Dermaga Pelabuhan Bajau di Kepulauan Mentawai yang ambruk, penyelidikan jembatan Sikabu di Padang Pariaman, hingga dugaan penyimpangan pembangunan Kampus III serta pengelolaan alat berat dalam kurun waktu berbeda.


    Rangkaian perkara tersebut memperlihatkan pola yang berulang: celah dalam tata kelola anggaran, lemahnya pengawasan, serta penyalahgunaan kewenangan. Dalam konteks itu, peran Aspidsus tidak hanya berhenti pada pembuktian hukum, tetapi juga menjadi bagian dari upaya korektif terhadap sistem.


    Secara akademik, Fajar merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Pancasila dan melanjutkan studi magister hukum pidana di Universitas 17 Agustus 1945 Semarang. Bekal akademik ini melengkapi pengalaman praktisnya selama lebih dari tiga dekade.


    Kini, Fajar Mufti mengemban jabatan baru sebagai Jaksa Utama Pratama pada Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung. Pada posisi ini, ia tidak lagi semata berada di garis depan penindakan, melainkan turut mengawal fungsi intelijen penegakan hukum—membaca potensi kejahatan sejak dini sekaligus memperkuat pencegahan.


    Di tengah kompleksitas tindak pidana yang kian adaptif, peran tersebut menuntut ketajaman analisis, pengalaman panjang, serta konsistensi yang telah ia bangun selama lebih dari tiga dekade sebagai insan Adhyaksa.(hen)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini