Padang Fakta Hukum Nasional _Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 tak lagi sekadar seremoni bagi Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sumatera Barat. Momentum ini dijadikan titik tekan: kualitas pendidikan Indonesia masih menghadapi ujian nyata—tercermin dari rendahnya disiplin di ruang publik, terutama di jalan raya.
Dirlantas Polda Sumbar. Kombes Pol. H.M. Reza Chairul Akbar Sidiq, bersama Wadirlantas Yudho Huntoro menyampaikan pesan yang lebih tajam dari sekadar ucapan seremonial. Mereka menyoroti bahwa pelanggaran lalu lintas yang terus berulang menunjukkan adanya celah dalam pembentukan karakter masyarakat.
“Pendidikan tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ukurannya jelas: apakah masyarakat kita disiplin, taat aturan, dan menghargai keselamatan di jalan,” tegas Dwi Richardi.
Realitas di lapangan masih berbicara lain. Pelanggaran kasat mata, abai terhadap keselamatan, hingga minimnya kesadaran hukum menjadi gambaran bahwa pendidikan karakter belum sepenuhnya mengakar. Di titik inilah, Hardiknas 2026 dimaknai sebagai alarm—bukan perayaan semata.
Ditlantas Polda Sumbar mendorong perubahan pendekatan: dari sekadar penindakan menjadi penguatan edukasi yang konsisten dan menyentuh perilaku sehari-hari. Berlalu lintas diposisikan sebagai “ruang kelas terbuka” yang paling jujur dalam mengukur kualitas karakter bangsa.
“Kalau di jalan saja masih abai, berarti ada yang belum tuntas dalam pendidikan kita,” tambah Yudho Huntoro.
Pesan ini sekaligus mengarah pada target besar Indonesia Emas 2045. Tanpa generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga disiplin dan berintegritas, visi tersebut berisiko menjadi retorika.
Hardiknas tahun ini, bagi Ditlantas Polda Sumbar, adalah pengingat keras: masa depan bangsa tidak ditentukan oleh angka kelulusan, tetapi oleh perilaku nyata warganya termasuk saat berada di balik kemudi..(Red/tim01)


