Padang, fakta hukum nasional – Riak di internal Partai Gerindra Sumatera Barat dinilai mulai memasuki fase yang mengkhawatirkan. Perbedaan sikap sejumlah elite partai yang berulang kali muncul di ruang publik melalui video viral dinilai tidak lagi sekadar dinamika biasa, tetapi berpotensi mengganggu konsolidasi organisasi.
Sorotan itu mengemuka setelah beredar video perdebatan mengenai pembangunan GOR Agus Salim antara Ketua DPD Gerindra Sumatera Barat Andre Rosiade dan Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasco Ruseimy. Dalam waktu hampir bersamaan, muncul pula dua video yang memperlihatkan Andre menegur Bupati Solok Jon Firman Pandu saat menghadiri kegiatan di Sulit Air dan Air Dingin.
Kader senior Gerindra, Benny Mulya, menilai rentetan peristiwa tersebut telah memunculkan kegelisahan di kalangan kader. Menurut mantan Ketua Satria Sumatera Barat periode 2010–2022 yang kini menjabat Dewan Pembina Satria Sumatera Barat itu, konflik antarelite seharusnya diselesaikan melalui mekanisme internal, bukan dipertontonkan di ruang publik.
"Yang saya rasakan bukan hanya kekecewaan pribadi. Banyak kader di bawah juga menyampaikan keresahan yang sama. Mereka mempertanyakan mengapa sesama kader justru saling berhadapan di depan publik," ujar Benny, Jumat (17/07/2026).
Menurut dia, kekuatan Gerindra dibangun melalui kerja kolektif kader sejak partai berdiri. Karena itu, setiap pemimpin memiliki tanggung jawab menjaga marwah organisasi.
"Partai yang membesarkan semua kader. Kepentingan organisasi harus ditempatkan di atas kepentingan individu," katanya.
Benny juga menilai komunikasi antarkader semestinya tetap mengedepankan etika organisasi. Ia mengingatkan agar pihak-pihak di sekitar elite tidak memperkeruh situasi dengan mendorong lahirnya polarisasi di internal partai.
"Saya melihat ada orang-orang yang justru mengambil keuntungan dari situasi. Kalau dibiarkan, kerusakan organisasi bisa datang dari dalam," ujarnya.
Menurut Benny, persoalan yang semula bersifat internal kini telah berubah menjadi konsumsi publik. Akibatnya, muncul persepsi bahwa Gerindra Sumatera Barat sedang menghadapi persoalan soliditas.
Ia mengingatkan, persepsi negatif yang terus berkembang berpotensi menurunkan moral kader, melemahkan konsolidasi politik, hingga memengaruhi citra partai di tengah masyarakat.
Atas dasar itu, Benny meminta Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra melakukan evaluasi terhadap kepemimpinan partai di Sumatera Barat. Menurut dia, evaluasi merupakan mekanisme yang lazim dilakukan organisasi politik untuk menjaga efektivitas kepemimpinan.
"Ini bukan soal menyerang individu. Saya ingin Gerindra kembali solid. Rumah besar ini harus dijaga bersama karena dibangun dengan perjuangan seluruh kader," tegasnya.(rel)


