-->
  • Jelajahi

    Copyright © Fakta Hukum
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Dari Snow Moon ke Ungkapan Nusantara; Langit, Bahasa, dan Ingatan Budaya

    Redaksi Fakta Hukum Nasional
    Rabu, 04 Februari 2026, Februari 04, 2026 WIB Last Updated 2026-02-04T05:12:07Z
    banner 719x885


    Oleh: Dr. Lusi Komala Sari, M.Pd.

    Dosen Retorika UIN Sultan Syarif Kasim Riau

    Pada malam 2 Februari, langit di atas Sumatera Barat tampak cerah. Cahaya purnama jatuh lembut di atap rumah, jalanan, dan pepohonan. Terang itu tak berasal dari lampu, melainkan dari langit itu sendiri. Pemandangan seperti ini kerap kita lewatkan sebagai keindahan biasa. Padahal, dalam sejarah peradaban manusia, bulan purnama hampir tidak benar-benar “biasa”. Ia nyaris selalu hadir bersama cerita, penamaan dan ingatan budaya.


    Purnama awal Februari dikenal sebagai Snow Moon, dalam tradisi Amerika Utara. Nama ini tidak hadir dari romantisme langit, melainkan dari pengalaman ekologis yang nyata. Februari merupakan periode dengan curah salju tinggi. Tekanan alam pada winter (musim dingin) menekan manusia untuk menentukan cara mereka bertahan hidup. Oleh karena itu, Snow Moon (bulan purnama) dinamai berdasarkan realitas yang mereka hadapi. Tradisi penamaan ini tercatat dalam sistem penanggalan masyarakat asli Amerika dan dipopulerkan kembali dalam rujukan modern The Old Farmer’s Almanac. Chaterine (2026) menjelaskan bahwa istilah tersebut merujuk pada kondisi salju yang dominan pada bulan itu.


    Di sinilah kita melihat sesuatu yang melampaui astronomi. Nama Snow Moon menunjukkan bahwa langit selalu dibaca melalui pengalaman manusia. Bulan tidak hadir sebagai benda netral, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang diberi makna melalui bahasa. Alam diterjemahkan menjadi kata, disanalah fenomena visual berubah menjadi penanda budaya.


    Bahasa semacam ini bukan sekadar label informatif. Ia menempatkan alam sebagai bagian dari realitas sosial, bukan entitas yang terpisah dari manusia. Nama-nama bulan mencerminkan prioritas perhatian ekologis dan sosial masyarakat yang hidup selaras dengan ritme musim. Dengan memberi nama pada langit, sesungguhnya manusia sedang menandai pengalaman kolektif, kekhawatiran, serta cara berpikir komunitasnya.


    Melihat Snow Moon di langit Sumatera Barat pada awal februari ini mengajak kita bertanya; bagaimana budaya Indonesia memaknai fenomena yang serupa? Di nusantara, bulan purnama hadir dalam jaringan ungkapan dan simbol yang kaya dalam sastra maupun bahasa sehari-hari. Frasa wajah seindah purnama, bagai pungguk merindukan bulan, dan istilah bulan madu bukan sekedar metafora estetis semata, melainkan cermin cara masyarakat memberi makna emosional dan sosial pada bulan. Ungkapan bagai pungguk merindukan bulan, misalnya, menunjukkan bahwa bulan diasosiasikan dengan keinginan yang tak terjangkau, harapan yang jauh, atau kerinduan yang terus mencari tempatnya. Bahasa tidak hanya menggambarkan apa yang tampak di langit, tetapi mentransformasikannya menjadi metafora bathin manusia. Dalam hal ini, bulan menjadi ruang simbolik tempat perasaan, kenangan, dan narasi sosial tertentu.


     Dalam tradisi lisan dan praktik budaya, bulan juga berfungsi sebagai penanda waktu dan ritme kehidupan. Penanggalan Islam di Indonesia yang mengikuti kalender lunar menempatkan fase bulan sebagai tolok ukur bagi puasa Ramadhan, Idul fitri, dan berbagai momen sosial-keagamaan lainnya. Di sini tampak bahwa bulan tidak lagi dipandang sebagai objek visual, melainkan kompas budaya yang menata waktu kolektif.


     Bahasa Indonesia sebagai produk budaya itu sendiri menyimpan kosakata yang erat dengan fase bulan, mulai dari bulan purnama, bulan sabit, hingga bulan mati. Istilah-istilah ini tidak hanya deskriptif, tetapi sarat simbol. Hubungan masyarakat nusantara dengan bulan sejak lama dimediasi oleh proses penamaan linguistik, sama seperti tradisi Snow Moon yang lahir dari pengalaman musim dingin dunia belahan utara.


    Menariknya, makna itu berubah ketika fenomena yang sama hadir di ruang geografis yang berbeda. Di Sumatera Barat, purnama 2 Februari tidak berkaitan dengan salju atau musim dingin ekstrem. Namun bulan yang sama tetap dihadirkan sebagai ruang refleksi budaya lokal, dipadukan dengan ungkapan, simbol, dan pengalaman bathin masyarakat setempat.


    Dalam perspektif ini, Snow Moon tidak hanya sebuah fenomena astronomi, tetapi peristiwa linguistik yang menunjukkan bagaimana manusia menegosiasikan makna antara pengalaman inderawi di langit dan kerangka konseptual yang dibangun dalam bahasa serta budaya. Bulan tampil sebagai sign (tanda) yang dipenuhi makna, bukan sekadar objek pasif di angkasa. Fenomena yang dinamai Snow Moon di Amerika Utara karena salju dapat diterjemahkan ulang dalam konteks nusantara sebagai fase purnama yang kaya simbol budaya. Hal ini menegaskan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi medium pemaknaan yang mentransformasikan alam menjadi pengalaman kultural.


    Pada akhirnya, melihat purnama di langit Sumatera Barat pada malam 2 Februari adalah pengalaman yang secara astronomis bersifat universal, tetapi secara kultural selalu partikular. Cara kita mengartikulasikannya melalui bahasa menjadikan pengalaman itu unik bagi setiap komunitas. Bahkan fenomena langit sekalipun tidak pernah sekadar visual. Ia selalu dihidupi oleh bahasa dan budaya yang membentuk cara manusia memahami dunia.**


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini