-->
  • Jelajahi

    Copyright © Fakta Hukum
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    BPDAS Agam Kuantan Gandeng Mahasiswa Hijaukan Kawasan Terdampak Galodo

    Redaksi Fakta Hukum Nasional
    Minggu, 14 Juni 2026, Juni 14, 2026 WIB Last Updated 2026-06-14T05:33:42Z
    banner 719x885

     


    Padang, fakta hukum nasional – Upaya pemulihan lingkungan pascabanjir dan longsor (galodo) di Sumatera Barat terus dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan Penanaman Pasca Bencana Galodo yang digelar Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UM Sumbar) di kawasan Lori, Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Minggu (14/6/2026).


    Kegiatan yang merupakan rangkaian Pengenalan Alam Rimba (PAR) Tahun Akademik 2025/2026 itu dihadiri sejumlah pemangku kepentingan sektor kehutanan dan konservasi. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala BPDAS Agam Kuantan Yantes Doniko, perwakilan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumbar, Balai Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), serta Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Bukit Barisan.


    Kepala BPDAS Agam Kuantan Yantes Doniko mengatakan, pihaknya mendukung penuh kegiatan penghijauan yang melibatkan kalangan akademisi dan mahasiswa sebagai bagian dari upaya rehabilitasi lingkungan pascabencana.


    “BPDAS Agam Kuantan ikut aktif bersinergi dalam kegiatan ini dalam rangka mewujudkan pelaksanaan Catur Dharma Perguruan Tinggi dalam pembangunan kehutanan. Kegiatan ini juga menjadi langkah nyata untuk mencegah banjir dan longsor pascabencana yang terjadi di Provinsi Sumatera Barat,” ujar Yantes.


    Menurut dia, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa dan masyarakat sangat diperlukan untuk memperkuat rehabilitasi hutan dan lahan, khususnya di daerah-daerah yang terdampak bencana alam.


    Selain melakukan penanaman pohon, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa kehutanan untuk memahami pentingnya konservasi sumber daya alam dan pengelolaan daerah aliran sungai secara berkelanjutan.


    Melalui kolaborasi lintas sektor itu, diharapkan upaya pemulihan kawasan terdampak galodo dapat berjalan lebih optimal sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan.(rel)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini