PADANG – Alam seolah ikut menguji perjuangan orang-orang di balik penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat 2026.
Kamis (30/7) malam, sekitar pukul 19.40 WIB, perjalanan tim persiapan Porprov mendadak terhenti di Kilometer 65 Silaiang, Lembah Anai. Tanah dan batu dari tebing longsor menutup badan jalan.
Tak ada hujan deras. Angin pun nyaris tak terasa. Namun, material longsor terus berjatuhan hingga tengah malam.
Sembilan orang yang berada dalam rombongan itu akhirnya harus bertahan di tengah gelap dan dinginnya Lembah Anai. Mereka bukan atlet yang tengah mengejar medali. Bukan pula pelatih yang mempersiapkan pertandingan.
Mereka adalah pejuang di balik layar yang sedang memastikan Porprov Sumbar 2026 kembali berjalan.
Rombongan tersebut terdiri atas Septri, Ketua Panitia Persiapan Porprov; Fazril Ale dan Dafrawira de Hansen, anggota SC Porprov; Firman Okta, anggota Sarpras; Ridho Syarlinto, anggota Humas; Thomi Rohmin Dharu, TD IODI Sumbar; serta tiga staf sekretariat, Ibnu Aldafi, Johanes BS Pasaribu, dan Rauf.
Mereka tengah menjalankan tugas koordinasi teknis (rakornis) ke sejumlah daerah. Mulai Kota Sawahlunto, Kota Solok, Tanah Datar, Bukittinggi, hingga Limapuluh Kota.
Misi mereka sederhana, tetapi tidak ringan: memastikan seluruh daerah siap menyambut Porprov Sumbar yang dijadwalkan berlangsung 2–14 Oktober 2026.
Namun, di Silaiang, perjalanan mereka terhenti.
Bukan Sekadar Event Olahraga
Bagi mereka, Porprov bukan sekadar pertandingan olahraga.
Di balik event dua tahunan itu, ada ribuan atlet Sumbar yang telah berlatih keras. Ada keringat, pengorbanan, biaya, waktu, bahkan mimpi yang dipertaruhkan.
Para atlet di pelosok daerah menunggu satu panggung untuk membuktikan kemampuan.
Karena itu, bagi tim persiapan Porprov, memastikan event tersebut terlaksana bukan sekadar menjalankan tugas organisasi.
Ada harga diri daerah yang ikut dipertaruhkan.
"Kalau kami gagal mengamankan ini, siapa lagi?" ujar salah seorang dari mereka.
Yang dikhawatirkan bukan hanya keselamatan akibat longsor. Ada kekhawatiran yang lebih besar: jangan sampai berbagai rintangan kembali membuat mimpi atlet Sumbar untuk tampil di Porprov ikut terkubur.
Kopi dan Mi Instan Temani Malam Panjang
Jalan tertutup. Kendaraan tak bisa bergerak.
Namun, suasana tidak berubah menjadi kepanikan.
Secangkir kopi dan mi instan seduh menjadi teman melewati malam panjang. Sesekali tawa terdengar di tengah dinginnya Lembah Anai.
Mereka tetap bercanda dan menjalankan aktivitas sambil menunggu jalan bisa kembali dilalui.
Bagi mereka, longsor hanya mampu menghentikan kendaraan.
Bukan menghentikan perjuangan.
Sebab mereka tahu, ada banyak orang yang bekerja tanpa sorotan agar Porprov bisa digelar.
Tak ada panggung untuk mereka. Tak ada medali yang akan dikalungkan.
Tetapi dari kerja mereka, para atlet mendapatkan panggung untuk bertanding.
Jalan Boleh Tertutup, Tekad Tak Boleh
Longsor Silaiang menjadi gambaran bahwa mengembalikan Porprov ke jalurnya bukan pekerjaan mudah.
Ada rapat. Ada perjalanan panjang. Ada koordinasi lintas daerah. Ada pengecekan venue, sarana dan prasarana. Bahkan ada malam-malam panjang yang harus dilewati jauh dari keluarga.
Semua itu dilakukan agar Porprov Sumbar 2026 benar-benar terlaksana.
Pukul 19.40 WIB, jalan mereka tertutup.
Namun, tekad mereka tidak.
"Jangan sampai mimpi atlet Sumbar terkubur."
Kalimat itu menjadi semangat untuk terus bergerak.
Karena mereka tidak sedang berjuang untuk nama pribadi. Mereka sedang bekerja untuk memastikan nama Sumatera Barat kembali berkibar melalui prestasi para atletnya..(rel)


