-->
  • Jelajahi

    Copyright © Fakta Hukum Nasional
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Emas Belum Tergenggam, Fondasi Sepak Bola Padang Mulai Terbangun

    Redaksi Fakta Hukum Nasional
    Kamis, 15 Oktober 2026, Oktober 15, 2026 WIB Last Updated 2026-10-17T14:13:53Z
    banner 719x885

     



    PADANG — Medali emas memang belum di tangan. Namun, menilai keberhasilan seorang pembina sepak bola tidak cukup hanya dari hasil akhir sebuah turnamen. Ada proses panjang, kompetisi yang kembali bergairah, hingga pembinaan pemain muda yang patut menjadi pertimbangan.

    Itulah yang menjadi catatan dalam perjalanan Mastilizal Aye memimpin Asosiasi Kota (Askot) PSSI Padang.

    Ketua Askot PSSI Kota Padang yang akrab disapa Aye itu memang belum mampu mengantarkan tim sepak bola Kota Padang meraih medali emas pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat 2026. Langkah Padang terhenti di semifinal setelah kalah 1-2 dari Kota Sawahlunto di Stadion Utama Sumatera Barat, Padang Pariaman, Minggu (11/10).

    Hasil tersebut tentu mengecewakan. Apalagi, target yang dipasang sejak awal adalah medali emas. Bahkan, Aye sebelumnya menyatakan siap meletakkan jabatan jika target tersebut tidak tercapai.

    Namun, sepak bola tidak semata-mata berbicara tentang menang dan kalah. Ada proses pembinaan yang harus dijaga, kompetisi yang mesti berkelanjutan, serta regene
    rasi pemain yang membutuhkan waktu.

    Wartawan utama sekaligus wartawan olahraga senior, Almadi, menilai rekam jejak Aye dalam menggerakkan sepak bola Kota Padang juga patut menjadi pertimbangan. Menurutnya, kegagalan meraih emas Porprov tidak serta-merta menghapus upaya yang telah dilakukan Aye dalam membangun ekosistem sepak bola di Kota Padang.

    Meski demikian, ada sejumlah pekerjaan rumah yang perlu menjadi perhatian serius. Salah satunya menyangkut banyaknya pemain asal Kota Padang yang justru membela daerah lain pada Porprov Sumatera Barat 2026.
    Kondisi tersebut, menurut Almadi, perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Sebab, pembinaan pemain di daerah semestinya dapat memberikan manfaat nyata bagi kekuatan tim daerah itu sendiri.

    Kompetisi Sepak Bola Padang Kembali Bergairah

    Salah satu pekerjaan yang patut mendapat perhatian adalah upaya menghidupkan kembali kompetisi Liga Askot PSSI Kota Padang.
    Kompetisi yang sebelumnya mengalami masa mati suri itu kembali digencarkan di bawah kepemimpinan Aye. Bagi pembinaan sepak bola, langkah tersebut bukan perkara sepele.
    Pemain tidak cukup hanya berlatih. Mereka membutuhkan pertandingan kompetitif, jam terbang, serta ruang untuk mengembangkan kemampuan.

    Dari kompetisi yang berjalan konsisten, bibit-bibit pemain potensial bisa ditemukan.

    Regenerasi pun memiliki jalur yang lebih jelas.
    Dalam pandangan Almadi, keberlanjutan kompetisi menjadi salah satu modal penting bagi sepak bola Padang untuk membangun tim yang lebih kuat pada masa mendatang.

    Namun, kompetisi lokal yang bergairah juga harus diikuti dengan strategi pembinaan dan pengelolaan pemain yang tepat. Jangan sampai Kota Padang telah bekerja keras membina pemain, tetapi ketika ajang Porprov berlangsung, sejumlah pemain potensial justru memperkuat daerah lain.

    Karena itu, pembinaan tidak boleh berhenti pada penyelenggaraan kompetisi. Askot PSSI Padang juga perlu memastikan adanya pendataan pemain, pemetaan potensi, serta program pembinaan berkelanjutan agar pemain-pemain terbaik memiliki kesempatan memperkuat daerahnya sendiri.

    Regulasi Porprov Harus Jadi Perhatian
    Persoalan pemain yang membela daerah lain juga perlu menjadi perhatian penyelenggara Porprov Sumatera Barat.

    Almadi menilai, regulasi mengenai persyaratan pemain, termasuk ketentuan domisili, perlu dievaluasi dan diperjelas untuk pelaksanaan Porprov berikutnya.

    Menurutnya, aturan yang tegas dan diterapkan secara konsisten penting untuk menjaga keadilan kompetisi sekaligus memperkuat tujuan pembinaan olahraga di daerah.

    Penerapan ketentuan domisili yang jelas diharapkan dapat mendorong setiap daerah lebih serius membina atletnya sendiri. Dengan demikian, Porprov tidak hanya menjadi ajang perebutan medali, tetapi juga sarana mengukur keberhasilan pembinaan olahraga di masing-masing daerah.

    Persoalan ini tentu membutuhkan pembahasan bersama antara KONI Sumatera Barat, pemerintah daerah, serta cabang olahraga terkait. Regulasi yang disusun harus memiliki dasar yang jelas, terukur, dan tidak menimbulkan multitafsir.

    Bagi Kota Padang, persoalan tersebut menjadi penting karena pembinaan pemain sepak bola membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya. Hasil pembinaan semestinya menjadi salah satu modal utama untuk bersaing pada ajang olahraga tingkat provinsi.

    Di sisi lain, Askot PSSI Padang juga tetap harus berbenah. Penguatan kompetisi lokal perlu dibarengi dengan pembinaan pemain usia dini, peningkatan kualitas pelatih, serta sistem seleksi yang objektif.

    Dengan begitu, potensi pemain yang selama ini berkembang di Kota Padang dapat terdata dan dipersiapkan secara lebih matang untuk menghadapi kompetisi berikutnya.

    Penghargaan 2024 Jadi Catatan Rekam Jejak
    Rekam jejak Aye dalam pembinaan olahraga juga ditandai dengan penghargaan sebagai Pembina Olahraga Terbaik Tahun 2024 dari Pemerintah Kota Padang.

    Penghargaan tersebut, berdasarkan informasi yang disampaikan, diberikan atas dedikasinya dalam membina sepak bola usia dini dan menghidupkan kompetisi yang sempat vakum.
    Penghargaan itu menjadi salah satu catatan dalam perjalanan Aye membangun sepak bola di daerahnya.

    Meski demikian, penghargaan bukan alasan untuk berhenti melakukan evaluasi. Justru, rekam jejak tersebut perlu dilanjutkan dengan kerja nyata dan peningkatan prestasi.

    Kegagalan di Porprov 2026 harus menjadi bahan introspeksi. Apa yang masih kurang dalam persiapan tim? Bagaimana kualitas permainan bisa ditingkatkan? Dan bagaimana kompetisi lokal dapat lebih efektif memasok pemain berkualitas untuk tim Kota Padang?
    Termasuk, bagaimana memastikan pemain-pemain potensial yang tumbuh melalui kompetisi lokal mendapatkan pembinaan dan kesempatan yang memadai untuk memperkuat Kota Padang.

    Pertanyaan-pertanyaan itu lebih penting dijawab daripada sekadar menyalahkan satu pihak atas kegagalan meraih medali emas.

    Aye Masih Layak, Evaluasi Tetap Jalan
    Bagi Almadi, kepemimpinan Aye masih layak dipertimbangkan untuk dilanjutkan, terutama dengan melihat upayanya menghidupkan kompetisi dan membangun pembinaan sepak bola.

    Namun, dukungan terhadap keberlanjutan kepemimpinan bukan berarti menutup mata terhadap hasil Porprov. Target emas yang telah disampaikan secara terbuka tetap harus menjadi bahan evaluasi dan pertanggungjawaban.

    Ke depan, Askot PSSI Padang perlu memastikan kompetisi berjalan teratur, pembinaan usia dini semakin kuat, dan proses seleksi pemain dilakukan secara objektif. Pendataan pemain juga perlu diperkuat agar potensi sepak bola Kota Padang dapat dikelola secara maksimal.

    Pada saat yang sama, evaluasi regulasi Porprov perlu didorong agar ketentuan domisili dan persyaratan pemain semakin jelas. Tujuannya bukan semata-mata membatasi ruang gerak atlet, melainkan memastikan kompetisi berlangsung adil serta mendukung tujuan pembinaan olahraga daerah.

    Dengan demikian, kegagalan kali ini tidak berhenti sebagai kekecewaan, tetapi menjadi pijakan untuk memperbaiki kualitas sepak bola Padang.

    Sebab, membangun sepak bola tidak bisa dikerjakan dalam semalam. Medali emas adalah tujuan, tetapi fondasi pembinaan yang kuat, kompetisi yang berkelanjutan, serta regulasi yang adil merupakan jalan untuk mencapainya.

    Dan ketika kompetisi yang sempat mati suri mulai kembali bergairah, pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan geliat tersebut benar-benar melahirkan prestasi bagi Kota Padang. (rel)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini